Rabu, 29 Agustus 2012

....Amstrong...


Baru-baru ini kita mendengar berita meninggalnya Neil Amstrong. Anda tau Neil Amstrong?? Kalau saya ga begitu tau…yang saya lebih tau adalah Lance Amtrong pembalap sepeda asal AS yang menjuarai Tour de France sebanyak 7 kali secara berurutan..(trus aku harus bilang Wow gitu)..
Neil Amstrong adalah mantan astronot Amerika Serikat yang pertama kali mendaratkan kakinya ke bulan, Neil Amstrong, meninggal dunia pd tanggal 25 agustus 2012 kemarin. Dia tokoh yang fenomenal karena berhasil mematahkan pemikiran orang tua jaman dulu..bahwa tidak mungkin manusia bisa sampai ke bulan, yang ada wanita datang bulan ..uppss. Yang agak unik dari Neil Amstrong selain sebagai astronot juga cerita yang menyelimuti perihal dirinya menjadi mualaf. Ceritanya pun bermacam-macam..ada yang memang seperti kisah bahwa Neil Amstrong memperoleh hidayah setelah perjalanannya ke bulan. Namun dari beberapa situs yang saya baca bahwa Neil Amstrong menjadi mu’alaf tidaklah benar. Tulisan/artikel yang membahas Neil Armstrong menjadi muslim adalah situs-situs di Asia Tenggara (Maroko, Filipina, Indonesia, Malaysia) terutama di Indonesia, orang-orang barat  menganggap negara-negara disini memiliki pendidikan yang rendah. Pernah kejadian saat Neil Armstrong ke Malaysia dan ditanyakan hal itu, ia heran, apakah hal seperti ini perlu dikonfirmasikan ke Neil Armstrong sendiri, karena peryataan seperti itu sangatlah aneh, ia tidak pernah ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Dan jika dijawab ia tidak pernah mendengar adzan, maka si penanya muslim yang kecewa dan tidak percaya (hal ini juga dianggap kebodohan). Ia memang pernah ke Mesir, tapi tidak untuk Naik haji ke mekkah.
Sejatinya Umat muslim tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan dirinya bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Jika kita meyakini agama kita benar, maka yakinilah bahwa hal itu benar. Muslim dianggap menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agamanya. Andai saja cerita tersebut kebohongan (hoax) justru umatnya sendiri yang jadi bahan tertawaan. Bahkan bisa jadi cerita itu dibuat untuk menghina umat muslim. Dalam beberapa jurnal barat dikatakan, umat muslim memerlukan nama-nama besar/cerita palsu untuk menambah keyakinannya.
Kita harus percaya nama dan ajaran yang dibawa Rrasullullah sudah besar dan kebenarannya hakiki dunia-akherat.

Senin, 20 Agustus 2012

Idul Fitri (momentum silaturahmi)


Bagi masyarakat Indonesia pulang ke kampung halaman/kelahiran dihari raya Idul Fitri merupakan sebuah tradisi yang turun temurun, tidak hanya dirasakan umat muslim saja. Sungkem kepada orang tua dan bertemu sanak family merupakan kebahagiaan yang sulit diukur secara materi. Bagi para perantau momentum libur lebaran yg cukup panjang dijadikan saat yang tepat untuk pulang bersilaturahmi. Perjalanan macet dan butuh perjuangan yang cukup berat untuk dapat mudik di hari raya banyak dirasakan. Perasaan bangga jika bisa pulang ke kampung halaman, terlebih dengan membawa kesuksesan dan perubahan yg lebih baik. Bersilaturahmi ke tempat saudara dan sahabat menjadi kebahagiaan batin tersendiri. Mobil dan kendaraan bagus serta pakaian dan aksesoris indah memantapkan dalam berkunjung, keluarga pun turut bangga dengan kesuksesannya. Kesederhanaan dan kerendahan hati dalam bersilaturahmi membawa warna tersendiri. Diantara hiruk pikuk keglamoran di hari raya terlihat seorang bapak-bapak  yang menuntun sepeda tuanya dengan dua anaknya naik di atas sepeda dan sang ibu mengiringinya dari belakang, mereka tampak rukun dan bahagia menuju ke tempat sanak family mereka, dengan baju terbagus yang mereka miliki. Ada buntelan tas plastik yang dibawa *mungkin saja bingkisan/oleh2 dari saudaranya.
Indahnya bersilaturahmi memang sangat terasa, ucapan yang berupa do’a menyelip diantara kata-kata…”semoga diberi kesehatan, tambahan rejeki, pinter dlm sekolah, enteng jodoh, dimudahkan dalam mengasuh anak, dlll..sering kita dapatkan di saat bersilaturahmi, semoga saja diantara do’a2 tersebut terkabul.. Begitu besar manfaat menjalin silaturahmi itu terasa karena saling mendo’akan.
…Mari kita jaga silaturahmi..

Jumat, 10 Agustus 2012

Muhasabah diri

''Jangan bangga dengan rumah mewah, karena rumah terakhir kita adalah KUBURAN"

''Jangan bangga
dengan title/gelar, karena title kita yg terakhir adalah... ALMARHUM (alm) "

"Jangan bangga
dengan wajah yg ganteng/cantik, karena wajah kita yg terakhir adalah TENGKORAK "
...

"Jangan bangga dengan mobil mewah, karena mobil terakhir adalah KERANDA MAYAT"

"Jangan bangga dengan gadget atau handphone mahal/canggih, karena alat komunikasi yg bisa menyelamatkan kita adalah DOA "

Rabu, 08 Agustus 2012

Ramadhan

Assalamu'alaikum...
lagi ga ada ide untuk poting,..tapi saya akan bajak postingan orang lain..ga papa yaa...sharing ilmu :)
semoga penulisnya mendapatkan tambahan pahala..aamiin..

Agar Ramadhan Tahun Ini Berharga

Ana Mardiana
Dua hari menjelang Ramadhan tahun lalu, aku menerima sms begini bunyinya : "Welcome to Ramadhan Great Sale " Jangan lewatkan : Obral Pahala besar-besaran, Diskon dosa s/d 99 % + doorprize Lailatul Qadr" Buruan! Hanya 30 hari!!
Sebelum membalasnya, aku teringat perkataan seorang teman tentang kalimat ini: Ramadhan is the Great Sale. Tentunya, bayangan kita menangkap moment Great Sale adalah pesta discount yang biasanya diadakan saat ulang tahun kota Jakarta. Dan digelar di mal-mal tertentu yang biasa menyelenggarakan great sale seperti di Sarinah atau Blok M Mall.
Dan saat itu, harga dibanting habis. Discountnya juga besar-besaran, bahkan sampai 70 %. Dan, saat itu juga semua orang tertarik untuk berbondong-bondong belanja. Demikian pula dengan Ramadhan.
Namun, rutinitas keseharian yang kita jalani setiap harinya tanpa tersadar menyeret kita ke arus perubahan waktu. Tak sadar kita bertemu dengan bulan berkah yang suci bulan Ramadhan. Di bulan ini, ada 3 kelompok sikap yang menyambutnya, Pertama, orang yang menyambut dengan suka cita dan gembira, karena mengetahui nilai kemuliaan di bulan ini, maka ia mengisinya tidak hanya berpuasa tetapi ditunjang dengan amal ibadah yang lain.
Kedua, orang yang menyambutnya dengan sikap biasa-biasa saja dan tetap berpuasa. Ketiga, orang yang menyambutnya dengan sikap menyesal bahkan menganggap bulan ini adalah bulan pengekangan hawa nafsu yang dianggap merugikan. Atas sikap yang pertama, si penyambut tidak akan menyia-nyiakan kehadiran Ramadhan. Ia dianggapnya tamu jauh yang kehadirannya sangat sulit ditemui. Ia pun belum merasa yakin tamu tersebut datang mengunjunginya di tahun-tahun yang akan datang. Inilah analogi yang ia gunakan. Karenanya ia tidak ingin menyia-nyiakan setiap malam-malamnya. Ia mengerti betul hadist tentang keistimewaan Ramadhan. Bahwa 10 malam pertama adalah rahmat, 10 malam kedua adalah maghfiroh dan 10 malam yang ketiga adalah terbebas dari api neraka.
Sementara terhadap kelompok yang kedua, ia tetap berpuasa. Ia tetap melaksanakan solat sebagaimana hari-hari di luar Ramadhan. Namun, ia tidak menemukan keistimewaan di dalam bulan ini. Sepulang dari aktivitas pekerjaan, ia seperti biasanya menonton tv sambil menunggu waktu berbuka, kemudian mandi, solat magrib, makan malam kemudian dilanjutkan dengan nonton tivi atau istirahat karena lelah setelah seharian bekerja. Tidak ada yang istimewa.
Sementara terhadap kelompok ketiga, ia kadang berpuasa kadang juga tidak. Aktivitas sehari-harinya lebih banyak digunakan dengan tidur karena menganggap bulan puasa sebagai bulan istirahat. Pun ia tidak berpuasa.
Dari analogi ketiga kelompok di atas tentunya kita dapat mengelompokkan diri masing-masing. Berada di dalam kelompok manakah diri kita? Alangkah bahagianya jika kita berada dalam kelompok pertama yang benar-benar mengistimewakan kehadiran bulan Ramadhan.
Terkadang sebagian muslimah yang sudah mengetahui keistimewaannya pun sulit mengatur hari-harinya bersama Ramadhan. Aktivitas pekerjaan yang menyita pikiran dan tenaga membuatnya lelah dan kalah untuk mengisi malam-malam Ramadhan dengan amalan ruhiyah. Ketika Ramadhan sudah diambang pintu, ia bertekad untuk menyambutnya dengan suka cita. Ia bertekad akan mengisinya dengan amalan ruhiyah. Namun, setelah berlalu satu malam, dua malam, dan seterusnya hingga Ramadhan berakhir ia tidak berhasil.
Pekerjaan dan penat menjadi alasan nomor satu yang membuatnya tertidur lelap. Ini adalah fenomena yang tidak bisa dipungkiri menjangkiti hampir setiap diri para muslimah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berusaha menyambut tamu istimewa Ramadhan dengan spesial? Sudahkah kita memaknainya dengan kondisi ruhiyah yang khusyu' berserah diri? Memohon ampun atas dosa dan khilaf di sebelas bulan yang telah terlewati? Karena di bulan inilah kesempatan dosa-dosa diampuni jika kita tidak yakin di bulan yang lain diampuni.
Menambah keimanan dengan mendekatkan diri kepada-Nya dengan bermunajat, bertahajjud atau bertarawih di malam-malamnya tentunya akan terasa perbedaannya. Karena pada malam-malam itu malaikat turun mengiringi hamba-hamba yang menegakkan solat.
Karenanya, sebisa mungkin untuk tidak terlalu sering mengonsumsi televisi di bulan Ramadhan. Karena jika kita melakukannya maka kita akan terseret oleh sihir cerita picisan sinetron yang tidak berkualitas. Alangkah lebih baiknya jika kita melakukan solat tarawih atau bahkan tidur untuk mempersiapkan tenaga menegakkan solat lail (solat tahajjud di tengah malam).
Ramadhan adalah bulan latihan untuk menempa diri. Bulan tidak makan dan tidak minum untuk perbaikan metabolisme tubuh. Bulan dimana kita 'dipaksa' untuk melakukan aktivitas terbaik dengan istirahatnya tubuh dari makan dan minum. Bulan dimana kita mengaktifkan sel-sel tubuh yang lain, yaitu potensi otak dan hati kita. Bulan dimana kita bisa mendapatkan pahala dimana di bulan-bulan sebelumnya kita belum tentu mendapatkannya. Bulan dimana dengan solat sunah saja kita mendapat pahala yang sama besarnya dengan solat wajib. Bulan dilipatgandakannya pahala. Tidakkah kita bersyukur dengan adanya Ramadhan? Subhanallah, Allah begitu sayang pada kita. Ia menurunkan rahmat-Nya melalui Ramadhan. Bulan dimana kita bisa berkesempatan meraih pahala, rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.
Jika kita ingin diberi dengan suatu hadiah yang mulia, maka marilah kita muliakan sang tamu dengan suatu yang mulia. Istimewakanlah tamu itu, niscaya kita tidak akan menyesal di kemudian hari. Apalagi jika ternyata tanpa kita sadari dan duga, kita tidak akan bertemu lagi di Ramadhan berikutnya.
Sukses Ramadhan, tergantung seberapa jauh kita mempersiapkan diri. Persiapan fisik, pikiran dan mental insya Allah akan membuat Ramadhan kita berkualitas.
Mengapa saya menulis tentang Ramadhan saat sekarang, padahal Ramadhan masih 2 bulan lagi. Karena biasanya, kita baru tersadar kalau Ramadhan sudah diambang mata. Apalagi bagi para pekerja kantoran yang selalu dihiasi target deadline setiap harinya. Pastinya mereka seperti terseret arus putaran waktu, hingga dilarutkan dengan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Dan tiba-tiba, Ramadhan datang, lewat dan pergi tanpa kita sadari.
Ramadhan bulan mulia, bulan suci yang kita analogikan sebagai tamu. Bagaimanakah biasanya kita mempersiapkan tamu agung yang akan berkunjung ke rumah kita? Ibarat seorang pejabat tingkat tinggi dari negara lain yang berkunjung ke Indonesia, maka sejumlah persiapan diadakan dari jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan penyambutan oleh sekompi pasukan angkatan darat maupun udara, persiapan acara untuk sang tamu, hingga acara penutupan. Semuanya harus dipersiapkan dengan baik agar tidak meninggalkan kesan buruk di mata sang tamu.
Ramadhan adalah tamu agung yang Allah telah memuliakannya di banding bulan-bulan lainnya. Ayat dan hadist tentang beberapa kemuliaan Ramadhan tentu sudah sering kita baca dan dengar melalui kajian internet dan ceramah-ceramah agama. Salah satunya adalah hadis berikut :
Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw -pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba- bersabda: Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do'a. pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt". (HR Ath-Thabarani) .
Bulan Ramadhan, bulan dilipatgandakan pahala dan bulan diampuninya dosa-dosa. Beribadah sunnah di bulan ini pahalanya sama dengan mengerjakan pahala ibadah wajib. Kemudian Allah juga memberikan kemuliaan berupa tiga hal yaitu 10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari kedua adalah ampunan, dan 10 hari terakhir adalah terbebas dari api neraka. Dan dibulan ini ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Jika melihat istilah saya pada tulisan bagian pertama, Ramadhan adalah bulan obral pahala, Ramadhan is Great Sale. Maka, siapa yang tak ingin menyiakan bulan penuh rahmat itu?
Karenanya, sedini mungkin kita melakukan persiapan untuk menyambut Ramadhan. Persiapan itu alangkah baiknya dimulai dari bulan Rajab, bulan yang juga merupakan salah satu bulan yang Allah muliakan.
Mengapa ada hadist Nabi : "Allahumma ballighna fii Rajaba wa Syaban wa ballighna Ramadan"? Artinya : Ya Allah, sampaikan kami pada (bulan) Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami pada (bulan) Ramadhan. Hal ini secara tersirat dimaksudkan agar kita mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan melakukan amalan ruhiyan sejak bulan Rajab tiba.
Amalan-amalan yang bisa dilakukan bisa berupa amalan yang bersifat fikriyah (pikiran/wawasan), jasadiyah (fisik), maupun ruhiyah (mental). Untuk persiapan fikiran, kita bisa menggali ilmu dengan membaca buku-buku tentang keutamaan Ramadhan dan buku lainnya yang memperluas wawasan. Seperti buku-buku sejarah nabi, mukjizat Al Quran, dan juga buku tentang fikih yang membahas tentang tata cara solat dan puasa sunnah, dan lain-lain. Bagi seorang muslim, fikih itu sangat penting dipelajari. Karena, pepatah mengatakan : "Amal tanpa ilmu akan sia-sia." Dan ilmunya amal adalah Fikih.
Begitu pula, dengan persiapan jasadiah/fisik, bisa dilakukan dengan banyak mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayur. Tujuannya untuk membantu mengeluarkan sisa-sisa pembuangan berupa kotoran dan racun dari dalam tubuh. Atau bisa juga ditambah dengan suplemen atau berbekam yang membantu proses detoksifikasi. Sehingga ketika memasuki Ramadhan, kondisi tubuh benar-benar dalam keadaan sehat sempurna, sehingga terhindar dari lemas, lelah apalagi sakit.
Sedangkan untuk amalan ruhiyah/mental bisa dengan berpuasa sunnah Rajab (lihat keutamaan berpuasa di bulan Rajab). Atau bagi yang belum melunasi hutang-hutangnya di bulan Ramadhan, kesempatan untuk melunasinya sejak bulan Rajab. Karena alangkah baiknya kita mendahulukan amalan wajib dengan melunasi hutang di bulan Ramadhan, baru setelahnya melakukan amalan sunnah.
Selain mendapat keutamaan dan pahala, dengan banyak melakukan puasa di bulan Rajab, secara tak langsung kita akan terbiasa dan tak canggung lagi untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Artinya fisik kita sudah ‘welcome' untuk berpuasa ketika Ramadhan tiba. Bagi yang sering mengalami kelelahan fisik atau lemas ketika puasa di bulan Ramadhan, apalagi ditambah pekerjaan di kantor yang menguras tenaga dan pikiran, bisa jadi karena tidak membiasakan diri dengan puasa sunnah sebelum Ramadhan.
Dengan ketiga persiapan di atas, insya Allah kita bisa menyambut dan ‘memperlakukan' Ramadhan -sang tamu- dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita bisa meraih banyak kemuliaan (lailatul Qadr) dari Ramadhan. Dan yang paling penting, seperti yang Allah maksudkan untuk orang-orang berpuasa adalah agar kita bertakwa (QS 2; 183).
Ana Mardiana
http://ana165.multiply.com