Assalamu'alaikum...
lagi ga ada ide untuk poting,..tapi saya akan bajak postingan orang lain..ga papa yaa...sharing ilmu :)
semoga penulisnya mendapatkan tambahan pahala..aamiin..
Agar Ramadhan Tahun Ini Berharga
Ana Mardiana
Dua hari menjelang Ramadhan tahun lalu,
aku menerima sms begini bunyinya : "Welcome to Ramadhan Great Sale "
Jangan lewatkan : Obral Pahala besar-besaran, Diskon dosa s/d 99 % +
doorprize Lailatul Qadr" Buruan! Hanya 30 hari!!
Sebelum membalasnya, aku teringat
perkataan seorang teman tentang kalimat ini: Ramadhan is the Great
Sale. Tentunya, bayangan kita menangkap moment Great Sale adalah pesta
discount yang biasanya diadakan saat ulang tahun kota Jakarta. Dan
digelar di mal-mal tertentu yang biasa menyelenggarakan great sale
seperti di Sarinah atau Blok M Mall.
Dan saat itu, harga dibanting habis.
Discountnya juga besar-besaran, bahkan sampai 70 %. Dan, saat itu juga
semua orang tertarik untuk berbondong-bondong belanja. Demikian pula
dengan Ramadhan.
Namun, rutinitas keseharian yang kita
jalani setiap harinya tanpa tersadar menyeret kita ke arus perubahan
waktu. Tak sadar kita bertemu dengan bulan berkah yang suci bulan
Ramadhan. Di bulan ini, ada 3 kelompok sikap yang menyambutnya,
Pertama, orang yang menyambut dengan suka cita dan gembira, karena
mengetahui nilai kemuliaan di bulan ini, maka ia mengisinya tidak hanya
berpuasa tetapi ditunjang dengan amal ibadah yang lain.
Kedua, orang yang menyambutnya dengan
sikap biasa-biasa saja dan tetap berpuasa. Ketiga, orang yang
menyambutnya dengan sikap menyesal bahkan menganggap bulan ini adalah
bulan pengekangan hawa nafsu yang dianggap merugikan. Atas sikap yang
pertama, si penyambut tidak akan menyia-nyiakan kehadiran Ramadhan. Ia
dianggapnya tamu jauh yang kehadirannya sangat sulit ditemui. Ia pun
belum merasa yakin tamu tersebut datang mengunjunginya di tahun-tahun
yang akan datang. Inilah analogi yang ia gunakan. Karenanya ia tidak
ingin menyia-nyiakan setiap malam-malamnya. Ia mengerti betul hadist
tentang keistimewaan Ramadhan. Bahwa 10 malam pertama adalah rahmat, 10
malam kedua adalah maghfiroh dan 10 malam yang ketiga adalah terbebas
dari api neraka.
Sementara terhadap kelompok yang kedua,
ia tetap berpuasa. Ia tetap melaksanakan solat sebagaimana hari-hari di
luar Ramadhan. Namun, ia tidak menemukan keistimewaan di dalam bulan
ini. Sepulang dari aktivitas pekerjaan, ia seperti biasanya menonton tv
sambil menunggu waktu berbuka, kemudian mandi, solat magrib, makan
malam kemudian dilanjutkan dengan nonton tivi atau istirahat karena
lelah setelah seharian bekerja. Tidak ada yang istimewa.
Sementara terhadap kelompok ketiga, ia
kadang berpuasa kadang juga tidak. Aktivitas sehari-harinya lebih
banyak digunakan dengan tidur karena menganggap bulan puasa sebagai
bulan istirahat. Pun ia tidak berpuasa.
Dari analogi ketiga kelompok di atas
tentunya kita dapat mengelompokkan diri masing-masing. Berada di dalam
kelompok manakah diri kita? Alangkah bahagianya jika kita berada dalam
kelompok pertama yang benar-benar mengistimewakan kehadiran bulan
Ramadhan.
Terkadang sebagian muslimah yang sudah
mengetahui keistimewaannya pun sulit mengatur hari-harinya bersama
Ramadhan. Aktivitas pekerjaan yang menyita pikiran dan tenaga
membuatnya lelah dan kalah untuk mengisi malam-malam Ramadhan dengan
amalan ruhiyah. Ketika Ramadhan sudah diambang pintu, ia bertekad untuk
menyambutnya dengan suka cita. Ia bertekad akan mengisinya dengan
amalan ruhiyah. Namun, setelah berlalu satu malam, dua malam, dan
seterusnya hingga Ramadhan berakhir ia tidak berhasil.
Pekerjaan dan penat menjadi alasan
nomor satu yang membuatnya tertidur lelap. Ini adalah fenomena yang
tidak bisa dipungkiri menjangkiti hampir setiap diri para muslimah.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berusaha menyambut tamu istimewa
Ramadhan dengan spesial? Sudahkah kita memaknainya dengan kondisi
ruhiyah yang khusyu' berserah diri? Memohon ampun atas dosa dan khilaf
di sebelas bulan yang telah terlewati? Karena di bulan inilah
kesempatan dosa-dosa diampuni jika kita tidak yakin di bulan yang lain
diampuni.
Menambah keimanan dengan mendekatkan
diri kepada-Nya dengan bermunajat, bertahajjud atau bertarawih di
malam-malamnya tentunya akan terasa perbedaannya. Karena pada
malam-malam itu malaikat turun mengiringi hamba-hamba yang menegakkan
solat.
Karenanya, sebisa mungkin untuk tidak
terlalu sering mengonsumsi televisi di bulan Ramadhan. Karena jika kita
melakukannya maka kita akan terseret oleh sihir cerita picisan sinetron
yang tidak berkualitas. Alangkah lebih baiknya jika kita melakukan
solat tarawih atau bahkan tidur untuk mempersiapkan tenaga menegakkan
solat lail (solat tahajjud di tengah malam).
Ramadhan adalah bulan latihan untuk
menempa diri. Bulan tidak makan dan tidak minum untuk perbaikan
metabolisme tubuh. Bulan dimana kita 'dipaksa' untuk melakukan
aktivitas terbaik dengan istirahatnya tubuh dari makan dan minum. Bulan
dimana kita mengaktifkan sel-sel tubuh yang lain, yaitu potensi otak
dan hati kita. Bulan dimana kita bisa mendapatkan pahala dimana di
bulan-bulan sebelumnya kita belum tentu mendapatkannya. Bulan dimana
dengan solat sunah saja kita mendapat pahala yang sama besarnya dengan
solat wajib. Bulan dilipatgandakannya pahala. Tidakkah kita bersyukur
dengan adanya Ramadhan? Subhanallah, Allah begitu sayang pada kita. Ia
menurunkan rahmat-Nya melalui Ramadhan. Bulan dimana kita bisa
berkesempatan meraih pahala, rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.
Jika kita ingin diberi dengan suatu
hadiah yang mulia, maka marilah kita muliakan sang tamu dengan suatu
yang mulia. Istimewakanlah tamu itu, niscaya kita tidak akan menyesal
di kemudian hari. Apalagi jika ternyata tanpa kita sadari dan duga,
kita tidak akan bertemu lagi di Ramadhan berikutnya.
Sukses Ramadhan, tergantung seberapa
jauh kita mempersiapkan diri. Persiapan fisik, pikiran dan mental insya
Allah akan membuat Ramadhan kita berkualitas.
Mengapa saya menulis tentang Ramadhan
saat sekarang, padahal Ramadhan masih 2 bulan lagi. Karena biasanya,
kita baru tersadar kalau Ramadhan sudah diambang mata. Apalagi bagi
para pekerja kantoran yang selalu dihiasi target deadline setiap
harinya. Pastinya mereka seperti terseret arus putaran waktu, hingga
dilarutkan dengan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Dan
tiba-tiba, Ramadhan datang, lewat dan pergi tanpa kita sadari.
Ramadhan bulan mulia, bulan suci yang
kita analogikan sebagai tamu. Bagaimanakah biasanya kita mempersiapkan
tamu agung yang akan berkunjung ke rumah kita? Ibarat seorang pejabat
tingkat tinggi dari negara lain yang berkunjung ke Indonesia, maka
sejumlah persiapan diadakan dari jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan
penyambutan oleh sekompi pasukan angkatan darat maupun udara, persiapan
acara untuk sang tamu, hingga acara penutupan. Semuanya harus
dipersiapkan dengan baik agar tidak meninggalkan kesan buruk di mata
sang tamu.
Ramadhan adalah tamu agung yang Allah
telah memuliakannya di banding bulan-bulan lainnya. Ayat dan hadist
tentang beberapa kemuliaan Ramadhan tentu sudah sering kita baca dan
dengar melalui kajian internet dan ceramah-ceramah agama. Salah satunya
adalah hadis berikut :
Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa
Rasulullah saw -pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba- bersabda:
Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada
bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan
Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do'a.
pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan
kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah
kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka
adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt". (HR
Ath-Thabarani) .
Bulan Ramadhan, bulan dilipatgandakan
pahala dan bulan diampuninya dosa-dosa. Beribadah sunnah di bulan ini
pahalanya sama dengan mengerjakan pahala ibadah wajib. Kemudian Allah
juga memberikan kemuliaan berupa tiga hal yaitu 10 hari pertama adalah
rahmat, 10 hari kedua adalah ampunan, dan 10 hari terakhir adalah
terbebas dari api neraka. Dan dibulan ini ada satu malam yang lebih
baik dari 1000 bulan. Jika melihat istilah saya pada tulisan bagian
pertama, Ramadhan adalah bulan obral pahala, Ramadhan is Great Sale.
Maka, siapa yang tak ingin menyiakan bulan penuh rahmat itu?
Karenanya, sedini mungkin kita
melakukan persiapan untuk menyambut Ramadhan. Persiapan itu alangkah
baiknya dimulai dari bulan Rajab, bulan yang juga merupakan salah satu
bulan yang Allah muliakan.
Mengapa ada hadist Nabi : "Allahumma
ballighna fii Rajaba wa Syaban wa ballighna Ramadan"? Artinya : Ya
Allah, sampaikan kami pada (bulan) Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan
kami pada (bulan) Ramadhan. Hal ini secara tersirat dimaksudkan agar
kita mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan melakukan amalan
ruhiyan sejak bulan Rajab tiba.
Amalan-amalan yang bisa dilakukan bisa
berupa amalan yang bersifat fikriyah (pikiran/wawasan), jasadiyah
(fisik), maupun ruhiyah (mental). Untuk persiapan fikiran, kita bisa
menggali ilmu dengan membaca buku-buku tentang keutamaan Ramadhan dan
buku lainnya yang memperluas wawasan. Seperti buku-buku sejarah nabi,
mukjizat Al Quran, dan juga buku tentang fikih yang membahas tentang
tata cara solat dan puasa sunnah, dan lain-lain. Bagi seorang muslim,
fikih itu sangat penting dipelajari. Karena, pepatah mengatakan : "Amal
tanpa ilmu akan sia-sia." Dan ilmunya amal adalah Fikih.
Begitu pula, dengan persiapan
jasadiah/fisik, bisa dilakukan dengan banyak mengonsumsi makanan
bergizi seperti buah dan sayur. Tujuannya untuk membantu mengeluarkan
sisa-sisa pembuangan berupa kotoran dan racun dari dalam tubuh. Atau
bisa juga ditambah dengan suplemen atau berbekam yang membantu proses
detoksifikasi. Sehingga ketika memasuki Ramadhan, kondisi tubuh
benar-benar dalam keadaan sehat sempurna, sehingga terhindar dari
lemas, lelah apalagi sakit.
Sedangkan untuk amalan ruhiyah/mental
bisa dengan berpuasa sunnah Rajab (lihat keutamaan berpuasa di bulan
Rajab). Atau bagi yang belum melunasi hutang-hutangnya di bulan
Ramadhan, kesempatan untuk melunasinya sejak bulan Rajab. Karena
alangkah baiknya kita mendahulukan amalan wajib dengan melunasi hutang
di bulan Ramadhan, baru setelahnya melakukan amalan sunnah.
Selain mendapat keutamaan dan pahala,
dengan banyak melakukan puasa di bulan Rajab, secara tak langsung kita
akan terbiasa dan tak canggung lagi untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
Artinya fisik kita sudah ‘welcome' untuk berpuasa ketika Ramadhan tiba.
Bagi yang sering mengalami kelelahan fisik atau lemas ketika puasa di
bulan Ramadhan, apalagi ditambah pekerjaan di kantor yang menguras
tenaga dan pikiran, bisa jadi karena tidak membiasakan diri dengan
puasa sunnah sebelum Ramadhan.
Dengan ketiga persiapan di atas, insya
Allah kita bisa menyambut dan ‘memperlakukan' Ramadhan -sang tamu-
dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita bisa meraih banyak kemuliaan
(lailatul Qadr) dari Ramadhan. Dan yang paling penting, seperti yang
Allah maksudkan untuk orang-orang berpuasa adalah agar kita bertakwa
(QS 2; 183).
Ana Mardiana
http://ana165.multiply.com