Senin, 17 Maret 2014

Buah Asli Indonesia Nan Eksotis

Kita semua tahu bahwa mengkonsumsi buah-buahan secara teratur sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.  Banyak penelitian ilmiah yang melaporkan khasiat nyata dari buah-buahan yang banyak mengandung vitamin A (beta-karoten), C dan E, magnesium, zinc, fosfor, dan asam folat, diantaranya dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner, merangsang kemampuan otak dan mencegah serta dapat mengobati penyakit kanker.
Namun tahukah anda bahwa dari sekian banyak buah-buahan yang ada dipasaran, banyak yang merupakan buah-buahan asli Indonesia.  Mereka adalah buah-buahan  yang eksotis dengan cita rasa khas daerah tropis.  Meskipun tidak dijelaskan secara terperinci mengenai sumber yang sahih, tidak ada salahnya kita mengenal buah-buahan eksotis tersebut.
1. Buah Durian  (Durio zibethinus.)
Banyak yang tidak tahu kalau buah berduri yang dijuluki King of Fruit ini berasal dari Indonesia. Buah durian yang khas dengan wangi menyengat ini ditemukan tumbuh secara liar di Sumatra dan Kalimantan. Kelezatan rasanya, membuat negara lain berlomba-lomba membudidayakannya. Sekarang, ada ratusan varian durian tersebar di seluruh dunia, termasuk di Thailand yang berhasil mengembangkan 300 varian durian.  Konon durian montong yang terkenal itu bibitnya berasal dari daerah di Kalimantan Barat.
2. Buah Manggis  (Garcinia mangostana L.)
Jika durian adalah “raja buah”, maka pendampingnya adalah “ratu buah” yaitu buah manggis. Buah yang awalnya ditemukan di daerah Kalimantan dan Sunda ini rasanya asam-manis yang sangat segar dengan daging buah berwarna putih bersih. Konon, hal tersebut sampai membuat Ratu Victoria dari Inggris tergila-gila padanya.
3. Buah Kedondong (Spondias dulcis.)
Buah hijau dengan biji berduri ini berasal dari belahan timur Indonesia. Di dunia internasional, buah dengan kedahsyatan rasa masamnya disebut dengan nama Ambarella. Pada awal abad 20, kedondong diperkenalkan ke mancanegara, mulai dari Australia sampai Jamaica. Bahkan, kedondong sempat ditanam juga di Florida, tapi sepertinya orang Amerika belum begitu familiar dengan buah rujak ini.
4. Buah Jambu air (Syzygium aqueum)
Jambu air dihasilkan dari pepohonan tropis Indonesia. Bunganya berwarna putih, sedangkan buahnya yang berbentuk mirip bel punya variasi warna keputihan, merah dan hijau, tergantung pada jenisnya. Biasanya, jambu berwarna merah memilki rasa paling manis. Jambu air dikenal mancanegara dengan nama Java Apple. Di beberapa negara, jambu dibuat menjadi buah untuk salad.
5. Buah Belimbing (Averrhoa carambola)
Asli berasal dari Maluku. Awalnya, buah ini menjadi favorit di Asia, lalu kemudian dikenal hingga Amerika, khususnya di Florida. Buah ini dijuluki Starfruit karena jika dibelah, bentuknya mirip seperti bintang. Orang barat menyebut rasa belimbing sebagai penggabungan pepaya, jeruk, dan anggur.
Sejak tahun 2007, buah belimbing resmi menjadi ikon kota Depok, Jawa Barat
6. Buah Pisang (Musa sp.)
Pisang ternyata adalah buah asli Indonesia.  Buah yang sekarang diolah jadi macam-macam dessert, seperti banana split, banana cake, atau banana pudding ini mulai dibawa ke Eropa pada abad 10. Sekarang Amerika Latin-lah yang jadi produsen pisang terbesar, karena menguasai 65% produksi pisang dunia. Konon selebriti, seperti Paris Hilton percaya buah pisang dapat meningkatkan energi dan vitalitas.
7. Buah Rambutan   (Nephelium lappaceum)
Karena kulitnya seperti ditumbuhi rambut, maka buah asli Indonesia ini dikenal dengan nama rambutan. Pada tahun 1906, Indonesia pernah mengekspor biji rambutan ke Amerika Serikat. Tapi sayang, rambutan tidak bisa hidup di sana. Sekarang beberapa negara, seperti Thailand dan Malaysia terkenal sebagai pengekspor rambutan yang sudah dikemas dalam kaleng.
8. Buah Salak  (Salacca zalacca)
Disebut dengan sebagai Snake Fruit karena kulitnya yang bersisik. Buah ini asli berasal dari Indonesia, bahkan salah satu variannya, salak condet, menjadi Identitas kota Jakarta. Ada aneka macam rasa salak, mulai dari yang manis, sepat, asam, atau gabungan keempatnya. Sayangnya, banyak yang mengira buah ini berasal dari Thailand atau Malaysia. Padahal di Kalimantan, salak tumbuh secara liar di hutan-hutan.
9. Buah Duku  (Lansium domesticum)
Buah yang berbentuk bulat kecil berwarna kekuningan ini merupakan salah satu buah asli kebanggaan Indonesia. Pohonnya pun dijadikan flora identitas provinsi Sumatra Selatan. Biasanya, duku dipanen setahun sekali. Di dalam negeri dan Asia duku banyak diminati, tapi sayang ekspornya belum menembus pasar Amerika dan Eropa.
10. Rambai (Baccaurea motleyana)
Rambai adalah sejenis buah-buahan dan tumbuhan penghasilnya yang tumbuh liar atau setengah liar di kebun-kebun Indonesia (terutama Sumatera dan Kalimantan). Rambai masih berkerabat dekat dengan menteng/kepundung, bahkan sering tertukarkan. Perbedaannya adalah bahwa bunga dan buah menteng tumbuh di ujung dahan. Selain itu, rambai relatif lebih manis.
Selain 10 jenis buah eksotis tersebut di atas, kita pasti sepakat bahwa masih banyak lagi buah-buahan asli Indonesia yang tak kalah eksotis dan lezat untuk dikonsumsi.  Anda punya daftarnya?

Narasumber : Gadis.co.id/wikipedia/berbagai sumber

Kamis, 13 Maret 2014

Diskret dan Kontinum


Pengertian diskret dan kontinum dirasakan lebih mudah untuk dipahami jika dihubungkan dengan himpunan. Suatu himpunan disebut diskret (atau bersifat diskret) jika anggota-anggota himpunan itu dapat dikawankan satu-satu dengan anggota-anggota himpunan bilangan alam. Jadi, himpunan bilangan alam, demikian pula himpunan bilangan cacah bersifat diskret. Ternyata himpunan bilangan rasional juga bersifat diskret. Sebuah himpunan disebut suatu kontinum (atau bersifat kontinyu) jika anggota-anggota himpunan itu dapat dikawankan satu-satu dengan anggota-anggota himpunan bilangan real. Jika anggota-anggota himpunan bilangan alam dicoba untuk dikawankan dengan anggota-anggota himpunan bilangan real, maka ternyata ada tak berhingga banyak bilangan real yang tidak mempunyai pasangan. Itu berarti bahwa tingkat ketak-berhinggaan himpunan bilangan real lebih tinggi dari pada himpunan bilangan alam. Kita tak pernah bisa mengetahui apakah ada ketak-berhinggaan lain di antara bilangan alam dan bilangan real. Asumsi bahwa hal itu tidak ada disebut Aksioma Pilihan.
Usia kita apakah termasuk diskrit atau kontinu...
Jika usia dinyatakan diskrit maka usia saya saat ini 30 tahun, namun jika dinyatakan dalam kontinu akan sangat setahui apakah ada ke

Kamis, 06 Maret 2014

Memori Setahun Yang Lalu :)

Tulisan ini aku kutip..eh buka kutip, tp ku copas semuanya dari http://lppmp.uny.ac.id/berita/adu-cepat-building-run-di-lppmp.html

Sudah hampir setahun yang lalu..

Adu Cepat "Building Run" di LPPMP

“Lomba yang membutuhkan kecermatan dan kehati-hatian”, begitu kurang lebih kata Dr. Haryanto, M.Pd, Dekan FIP sekaligus ketua panitia DIES UNY ke-49. 
Jumat pagi (12/4) LPPMP ramai didatangi calon peserta lomba LPPMP Building Run dalam rangka memeriahkan agenda DIES tahun 2013. Lomba yang mengharuskan peserta untuk adu cepat naik dan turun tangga gedung berlantai 4 ini diikuti oleh sekitar 80 peserta dari kalangan karyawan UNY. Peserta terdiri dari kurang lebih 60 peserta putra dan 20 peserta putri.
Lomba diawali dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh Dekan  FIP Dr. Haryanto, M.Pd , Wakil Dekan I FIP  Dr. Sugito, MA  dan didampingi ketua LPPMP Prof. Dr.  Zuhdan Kun Prasetyo, M.Pd selaku tuan rumah penyelenggara lomba. Upacara dimulai dengan sosialisasi aturan permainan oleh Dr. Ngatman Soewito, M.Pd. , kemudian sambutan dari ketua panitia DIES dan diakhiri dengan meninjau lintasan yang akan dilalui peserta.
Sekitar pukul 07.30, peserta giliran pertama mulai berlari dari garis start di lobi gedung orange. Dari 80 peserta, waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk satu kali putaran adalah sekitar 1 menit 30 detik. Untuk kategori putra (4 putaran) waktu tercepat diraih oleh Tri Pamungkas (LPPMP) dengan waktu 3 menit 54 detik, disusul Kiryono (FMIPA) 4 menit 12 detik dan Nusfiyanto (FIS) 4 menit 16 detik. Sedangkan kategori putri (2 putaran) waktu tercepat diraih oleh Rolisda (LPPMP) dengan waktu  2 menit 52 detik, disusul Dewi Widianingsih (Kepegawaian) 3 menit 4 detik dan Isti Wiyanti (FIP) 3 menit 22 detik. Keenam peserta peraih waktu tercepat tersebut mendapatkan piala dan uang pembinaan yang diserahkan langsung oleh Prof. Dr. Suwarna, M. Pd dan Dr. Ngatman Soewito, M.Pd diakhir acara.
Lomba yang berlangsung hingga pukul 09.00 WIB ini berlangsung lancar dengan peserta yang cukup antusias berlomba meraih waktu tercepat, sampai-sampai ada seorang peserta yang seharusnya hanya diwajibkan berlari sebanyak dua putaran, justru melanjutkan larinya untuk putaran ketiga, untungnya panitia segera mengingatkan peserta tersebut untuk berhenti. “Untung akhirnya juara, kalau tidak kan malah tombok”, kata seorang peserta sambil bercanda dengan peserta lain.